Kamis, 24 Januari 2013

Daun 'kering'



     Alasan mengapa aku mengambil nama daun ‘kering’ karena aku terlalu pusing mikirin nama yang tepat buat blog baruku inidi tambah lagi final menanti andbahan final yang materinya yang buaaaanyaak banget... hmm.. di tengah kepenatanku itulah terlintas kata ‘daun’ dibenakku, hehehe.. yang ku kutip dari salah satu cerpen kesukaanku yang berjudul “Angin di Daun Pohon” cerpen yang tidak sengaja ku dapat di salah satu situs di internet sewaktu SMA dulu.. 
     Sedikit bercerita tentang cerpen kesukaan ku itu. Yah.. ceritanya masih tentang Cinta Persahabatan dan Pengorbanan. *Simple tapi cukup membuatku berfikir tentang pentingnya ungkapan rasa sayang itu. :*
Hkem.. hem..
Nih cerpen yang ku maksud tadi. Selamat membaca  yah !! ^_^

Angin di Daun Pohon
       Alasan orang-orang memanggilku “Pohon” karena aku sangat baik dalam menggambar Pohon. Setelah itu, ku selalu menggunakan Pohon pada sisi kanan sebagai tradenmark pada sebuah lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih di SMA.
               Ada satu wanita yang sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya, dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dan sebagainya. Dia sangat peduli dengan orang lain dan religious. Tapi dia hanya wanita biasa saja.
            Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip-gosip yang ada akan manyakitkannya. Aku hanya merasa dia adalah “sahabatku” dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.
      Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis-gasis lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.
    Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata “lanjutkan saja…” dan setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak, dan merah..
         Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, bahkan aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejaman.
        Pacarku yang keempat tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memuli perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.
       Ketika aku putus dengan pacarku yang ke lima, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ku katakana padanya. dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai hubungan dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energy dan menarik.
        Aku tidak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiku, tapi hanya bisa tersenyum dan mengatakan selamat padanya. ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku. aku tidak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.
      Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya.
     Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di handphon-ku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis.
     SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?”
DAUN
             Selama aku SMA, aku suka mengoleksi Daun-Daun, kenapa? Karena aku merasa bahwa Daun membutuhkan banyak kekuatan untuk meninggalkan Pohon yang selama ini ditinggali.
           Selama 3 tahun di SMA, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi “sahabat”. Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk pertama kalinya, aku memepelajari sebuah perasaan yang belum pernah akau pelajari sebelumnya, CEMBURU. Perasaan di hati ini tidak bisa di gambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama gadis lain.
            Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, but mengapa di tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang memulainya dulu untuk melangkah? Ketika di punya pacar lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sakit.
            Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku sangat baik di luar perlakuanya sebagai seorang teman?
     Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, ku tahu kesukaannya, kebiasaanya. Tapi perasaanya kepadaku tidak bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan aku sebagai wanita untuk mengatakanya bukan?
            Di luar itu, aku tetap di sampingnya, memberinya perhatian, menemainya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari dia akan datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telepon setiap malam, mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tahu sesibuk apa pun dia, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku menunggunya. 3 tahun cukup berat untuk ku lalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berfikir untuk tetap menunggu. Luka dan sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.
            Ketika terakhir tahun ke-3, seorang pria mengejarku, dia adik kelasku, setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan yang telah dia tunjukkan, aku ingin memberikannya ruang kecil di hatiku.
            Dia seperti Angin yang sangat lembut, mencoba meniup Daun untuk terbang dari Pohon. Akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.
“Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal?”
ANGIN
      Karena aku menyukai seorang gadis bernaman Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.
            Angin akan tiup Daun untuk terbang jauh.ketika aku pertama kalinya, ketika 1 bulan setelah aku pindah sekolah. aku melihat seorang yang memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, di selalu duduk di sana sendirian atau dengan teman-temannya memeperhatikan Pohon. Ketika Pohon bercerita dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat kearah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti Daun yang suka memperhatikan Pohon. Suatu hari dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan.
          Senior juga tidak terlihat saat itu, aku pergi ke kelas mereka, melihat seniorku sedang memperhatikan Daun. Air mata mengalir di mata Daun ketika Pohon pergi, besoknya kau melihat Daun di tempat yang biasa, memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya menulis catatan dan memberikan kepadanya, dia sangat kaget.
         Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya dia datang, menghampiriku dan memberiku catatan “hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon” aku melihat ke arahnya denga kata-kata tersebut dan pelan dia mulai berkata padaku dan menerima kehadiranku dan menerima teleponku.
               Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi kau akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku. Selama 4 bulan, aku telah mengucapkan kata cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Setiap kali dia mengalihkan pembicaran… tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.
Aku bertanya, “apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas?”
Dia berkata “aku menengadahkan kepalaku”
“ah?” aku tidak percaya apa yang aku dengar.
“aku menengadahkan kepalaku” dia berteriak
          Aku meletakkan telepon, berpakaian dan naik ke taxi ke tempat dia, dan dia membuka pintu, aku memeluknya kuat-kuat.
“Daun terbang karena Angin tau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar